Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulineran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

Suatu Siang di Godhong Pring Salatiga

Sebulan lalu harusnya aku menulis ini. Memang rencana jauh-jauh hari pengin mencoba kuliner di Godhong Pring yang tempatnya nyelempit, hihihi. Dengar-dengar punya menu berbagai macam teh. Masih ingat, waktu itu siang bolong mau cus ke lokasi. Hampir beberapa meter sampai, eh ada cegatan di daerah Pancasila. Hiyaa, takut sama Pak Pol, langsung belok kiri, pura-pura baca mading, hihihi. Malah sekalian cari hiburan melihat tingkah para pengendara mengahadapi Pak polisi. Lucu-lucu deh. 




Memasuki Godhong Pring yang terletak di Jl. Merbabu gg. 1 No. 3 Pancasila ini terasa sepi sekali kala itu, hanya ada beberapa orang yang terlihat seperti mahasiswa sedang bermain laptop. Sehingga aku ragu, apakah tempat makan ini sudah buka atau belum. 





Menu-menu yang ditulis dengan kapur di paan tulis jadul pun terbatas. Tak ada menu macam-macam teh seperti yang kudengar sebelumnya.  Entah, apa mungkin menu siang dan malam dibedakan. 

Pilihan yang netral dengan lidah ya ayam bakar seharga 12ribu. Minumnya adalah wedang Lawu. Wedang yang merupakan campuran kunyit dan susu, harganya 8ribu. Saya memesan yang hangat, sedangkan si dia pesan es coklat dengan harga 8 ribu


Ayam bakar

Ketika makanan terhidang, agak mengecewakan rasanya. Ayam bakarnya, alot habis dan sulit dikunyah dan ditelan. Baluran kecap di luar sangat banyak hingga gosong namun dalamnya tidak matang. Porsi nasinya pun sedikit. Sehingga yang saya makan hanya nasi dengan sambal. Minuman yang saya pesan juga jadi ditambah es, padahal pesan yang hangat.

Es wedang Lawu dan coklat

Yah, pertama kali berkunjung di sini dengan hidangan yang kurang pas. Rasanya masih harus berpikir-pikir lagi untuk ke sana. Makanya nih, agak-agak males mau review kulineran. Harga yang dibanderol tinggi namun kurang memuaskan. Mesti cari-cari rekomendasi makan yang enak deh. Seringnya nemu tempat makan bagus tapi rasanya makanannya kurang. Eaah, semoga akunya nggak mutung dan terus menulis yah 
Akhir-akhir ini tulisanku jujur banget, hehehe
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya :)

Rabu, 11 November 2015

Numpang nongkrong di Cimory

Sudah satu bulan sejak pos terakhir aku baru menulis lagi. Boleh dong aku beralasan. Yaa, karena aku sibuk mengerjakan pesanan gantungan kunci clay yang sekarang jadi sumber utama penghasilanku. Oktober kemarin memang full order. Tiap hari ada yang pesan. Jadi deh aku harus ngebut demi mengisi pundi-pundi, hihihi. Habis itu malah kewalahan sendiri karena nggak memenej pesanan. Makanya November aku membatasi orderan demi menulis lagi. Kangen banget, suwer. 

Sekalipun sok sibuk dengan crafting, tentu aku nggak mau terjebak dengan rutinitas cari duit melulu. Pengen juga jalan-jalan yang dekat-dekat aja dari rumah. Pilihan jatuh ke Cimory. Penasaran banget, kalau weekend, parkir mobil yang berkunjung sampai ke jalan raya. Yaelah ada apanya sih? yang kulihat di jalan ada baliho gede promosi Chocomory yang merupakan produk baru dari Cimory khusus penganan serba caklet. 

 Cochomory

Jumat, 02 Oktober 2015

Richeese Factory, Ayamnya Beda!!!

Kabar gembira!!! ada tempat makan baru di Semarang. Iya, pada tanggal 01 Oktober kemarin adalah Media Gathering syukuran Richeese Factory. Alhamdulillah saya bisa ada di sana. Senang banget. Baru tahu juga kalau Richeese factory ternyata adalah resto siap saji. Saya pikir outlet makanan ringan produk Richeese yang serba keju, hehehe. Dan Semarang jadi sasaran kota ke 2 di Jateng setelah Tegal untuk mendirikan resto ini. Eaaah, Semarang kan termasuk kota besar. Alamat Richeese factory ada di Jl. S. Parman no 48 Semarang, tak jauh dari hotel Grasia. 



Pemotongan tumpeng oleh Fahmy Ristianty (Marketing Communication Manager)

Acara ini turut mengundang anak-anak Panti Asuhan Al-Bisri Karangrejo dan dimeriahkan oleh Tikustik Band serta Badut yang kocak untuk menghibur hadirin.




Oh ya pernah makan ayam yang terkenal seantero jagat, yang setiap kota kecil ada tuh outletnya? Richeese Factory juga menyediakan menu seperti itu, tentu dengan sesuatu yang spesial. Bedanya ayamnya ada saus keju, yang lebih istimewa lagi ayamnya nggak polosan tapi dibalut saus barbekyu. Nagih banget deh ni ayam :) Tapi ini nggak pedes lho. Soalnya Fire Chicken ini sampai level 5. 




Mau tahu yang level 5 seperti apa??? Saya sudah merasakannya karena ikutan Fire Wings Challenge. Di mana peserta cepet-cepetan makan Fire Chicken sampai tandas. Terang aja saya nggak mau. Kerjaan banyak, nanti kalau murus-murus, kelar deh kite, hihihi. Yah, tapi demi melihat wajah pembawa acara seneng. (Karena saya tahu mereka desperate banget ngebujuk-bujuk nggak dapat korban :D) Akhirnya saya melakukannya.



Sekali gigit, emmm rasanya kayak ada manis-manisnya gitu. Dua kali gigit, masih selamat sampai satu potong habis. Seterusnya, kayak ada yang kebakar gitu. Sumpah!! Pecahhhh *bibir ane gan. Alhamdulillah langsung diselamatkan dengan minuman Pink Lava. Huffft


kiri, Frutarian, sebelahnya Pink Lava

Yah, tapi yang suka pedas sepertinya nggak masalah sih. Sebenarnya, saya pengen juga bawa pulang ayam sisa lomba. Eh, tapi langsung diangkut, hihihi 
Oh ya, menu ayam ini ada dua. Satunya adalah Richeese chicken ada rasa original dan pedes alias Hot Spicy. Nggak cuma itu, yang manis-manis juga ada. Richeese Cake-in-a-cup. Cheese cake ini disediakan dalam berbagai rasa. Legit banget dah. 


Mahasiswa yang suka nongki pasti nggak sabaran deh mau nyobain. Resto ini buka dari jam 10.00-22.00 WIB. Bagi yang ingin merayakan ulang tahun cukup dengan budget 35.000/anak sudah dapat paket makanan dan goodie bag untuk teman-teman yang datang. 
Praktis banget ya, nggak perlu ribet bikin acara di rumah. 
Yah, kalau boleh sih, pas tanggal ulang tahunnya, customer digratisin. Tambah sip deh itu. Hihihi.

Rabu, 23 September 2015

Playground by Tiga Tjeret, Kucingan Modern

Sega kucing sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa Tengah, walaupun beda kota dalam menyebut nasi sekepal dengan lauk teri dan sambal ini. Kalau aku biasa nyebut kucingan, ada juga yang bilang angkringan. Sedangkan di Solo biasa menyebut HIK alias Hidangan Istimewa Kampung. Konsep kucingan ini biasanya lesehan di pinggir jalan dengan gerobak dan lampu remang-remang. Menyajikan nasi dengan porsi sedikit dengan beberapa macam jenis lauk, seperti teri sambal, kering sambal dan telur sambal. Tak lupa gorengan dan sate-satean macam sate usus, telur puyuh dan hati ayam. Sedangakan minuman pendampingnya wedang jahe, susu jahe atau sekedar teh manis panas. Bener-bener kemecer aku nulis ini, teringat jaman kuliah suka ngucing bareng anak kos di Salatiga :(

Minggu, 20 September 2015

Kampoeng Kemiri, Gudangnya Makanan

Yuhuu Salatiga again, share rempat makan lagi ah. Aku tuh kalau pergi ke Salatiga pasti deh mikir entar makan apa ya? Mesti bingung. Untung deh, aku bergabung di Grup Kuliner Salatiga di facebook. Hampir tiap hari ada yang posting tentang tempat makan. Eh, kemarin aku mampir ke foodcourt Kampoeng Kemiri Salatiga di belakang Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Jl. Kemiri 2 No 25. Foodcourtnya nangkring di atas Mitra Swalayan.


Selasa, 15 September 2015

Singkong Keju D-9 Superrr Empuk

Hai teman, mau ngenalin nih, singkong yang laris pol di Salatiga. Namanya singkong keju D-9. Pertama kenal ini karena pas kerja dulu ada yang suka ngomongin nih singkong. Loh…loh kok aku kudet sih. Saba ke kota adem itu kok nggak tahu kasak kusuk singkong yang katanya empuk banget. Oke deh…cobain ke sana pas habis lebaran dulu. Ngantrinyaaa, akhirnya batal deh. Terus memutuskan beli singkong yang lain. Enak juga sih. Cuma masih penasaran sama nih singkong alias pohung a.k.a telo ini. Enaknya kayak apa sih, kok pada rela nunggu dan bersabar. Ya sudahlah ke sana lagi. Dan mencoba antri.


Sabtu, 29 Agustus 2015

Sejenak Mengenal Kopi di Omah Kopi Gunung Kelir

Hai teman, adakah yang suka ngopi? Hei saya juga lho. Walaupun hanya sesekali minuman ini bisa bikin mood balik lagi. Yah, untungnya juga nggak pernah mengalami masalah apapun dalam mengonsumsinya. Ada sih teman yang sehabis minum kopi perutnya langsung sakit, konon memang dia ada penyakit maag, sehingga  kopi sebisa mungkin dihindari. Saya memang nggak begitu ngerti tentang kopi dan efek-efeknya sih. Namun, setelah mampir ke Omah kopi jadi ngerti dikit dengan si hitam pahit ini, hehehe.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Pondok Alam Bang Kohar, nggak Sekadar Makan

Kebutuhan orang-orang zaman sekarang nggak cuma pangan, sandang dan papan tapi juga jalan-jalan. Walaupun dalam ilmu ekonomi bukan kebutuhan pokok. Namun, ada yang rela irit-irit jajan buat refreshing. Iya nggak? hayooo? *ngomongin diri sendiri. Apalagi bisa foto-foto terus unggah di sosial media. Berasa eksis terus deh. Daripada dibilang pamer aja, karena yang njedul cuma foto-foto narsis barengan makanan. Dengan menulis, kita bisa kasih info bisa bermanfaat bagi orang lain. Setuju kan? hehe,

Nah, kebetulan sih kemarin aku bisa nebeng makan-makan sama kelompok arisannya kakakku buat halal-bihalal. Jadi nggak khawatir deh, sama duit yang nggak seberapa itu, hihihi. 
Tempatnya di Pondok Alam Bang Kohar, jl-Jimbaran-Bandungan. Kalau kami dari arah Ungaran masuknya dari Lemah Abang. Kalau naik angkot lebih enak turun di Srumbung lanjut angkot arah Jimbaran.

Menelusuri jalan menanjak dan sempat berkelok-kelok. Sampailah di parkiran sepi sekali, maklum ke sana pas hari Selasa. Setelah masuk aku takjub. tempatnya luas, nggak hanya tempat makan dengan pemancingan. Ada banyak saung-saung kecil  dikelilingi kolam ikan. Romantis juga buat penganten baru, hihihi. Nah, karena selang satu hari sudah pesan tempat, katanya sih di Akasia. Jadi karyawannya mengarahkan kami ke pondok yang agak luas di atas. Naik-naik puncak gunung lagi deh. Ibu-ibu pada protes, padahal boleh di mana saja sih kalau nggak ramai. 
Beginilah pemandangan hijau dengan gemericik air yang syahdu.

Kamis, 04 Juni 2015

Nuansa Jawa di Joglo Ki Penjawi

Yang menyenangkan saat liburan selain longgarnya waktu nyuci baju adalah jalan-jalan, entah itu pergi ke tempat wisata atau kulineran. Nah, dua opsi terakhir itu tentu dengan syarat ada fulusnya, kecuali ada yang traktir yes. Kali ini saya pengen bagi-bagi info kuliner lagi, yang pasti di Salatiga lah ya *wink-wink. Ya kan dekat sama rumah *rumah siapa buuu?

Biasa, dengan berbekal brosing sampailah saya di rumah makan Joglo Ki Penjawi Salatiga yang njawa banget. 


Kamis, 07 Mei 2015

Ngresto di Hanna Resto Salatiga

Thanks God It's Friday dan Minggu semakin dekat, hehe. Duh, nih kepala pikirannya liburan melulu. Untungnya saja nih bulan penuh tanggal merah, agak bisa napas dari rutinitas. Oh ya, kali ini saya pengen cerita Resto baru di Salatiga. Yakni Hanna Resto, kayak nama restoran Jepang ya. Namun, yang langsung ketangkap mata dari resto ini adalah rumah-rumahan warna-warni di depannya jadi tidak ada ada bau-bau Jepang sama sekali.


Perasaan saya pas sampai hidung tulisan restonya agak plendas plendus soalnya lihat di halamannya yang lagi nangkring Chinese sama bule, takut mahal cyiiin*keder mode on. Namun saya tetap berpikir realistis, semahal-mahalnya kafe di Salatiga nggak akan lebih mahal sama yang di Semarang. Okeh mari capcus deh.


Hanna Resto tampak depan

Lokasi Hanna Resto ini di jl. Kartini No. 108 Salatiga, dari jalan raya kurang lebih 1 kilometer, cukup jauh sih. Yang menarik dari resto ini adalah ada playground yang berupa rumah-rumahan untuk bermain anak-anak. Walaupun tidak terdapat pernak-pernik atau mainannya. Setidaknya orang tua bisa makan dengan tenang selagi anak-anak asyik berlarian di dalamnya.

Menu yang disajikan resto ini sangat varaiatif, seperti mengusung Indonesian cuisine saya menjumpai makanan yang Indonesia banget. Nasi goreng, gado-gado, ayam goreng, kwetiaw dan masih banyak lagi. Minumannya tak kalah menarik, ala wedang-wedangan macam bajigur, ronde, es degan, dll. Kisaran harganya pun masih standar walaupun dengan menyandang nama resto di belakangnya.

Melihat banyaknya menu di list rasanya saya bingung. Karena saya suka nasi, maka ingin memesan nasi goreng. Namun mas waiter bilang akan lama.
"Ya sudah mas, yang cepat apa?" tanya saya.
"Ini Bu, Hanna Sup dan bla....bla...." saya lupa masnya ngomong apah, hehe. "Nah, ini juga cepat Bu," lanjutnya menunjuk menu Nasi Bucu. "Nah, Nasi Bucu itu gimana mas?"
"Itu nasinya nanti dibentuk kayak tumpeng begitu, Bu"
"Oooooo" Dalem hati, nasi dengan lauk kayak rames 27ribu. Udah bisa ngebayangin rasanya dah *sokbanget.
Sambil mikir daripada ngoyot terus blendingen karena minumnya dulu yang keluar, akhirnya saya memesan Hanna Sup dengan harga 16ribu dan wedang ronde 7.5 ribu, sedang teman di samping saya gado-gado 11ribu dan es degan 6ribu.
Yang pertama keluar tentu minumannya dulu, ronde dan es kelapa

wedang ronde Hanna Resto

 es degan/kelapa muda

Rondenya enak sekali, bulatan-bulatan kecil di dalamnya pun tidak alot. Jumlahnya ada empat butir, lumayan tak pelit kan?! hihihihi. Sedangkan es degannya saya nggak nyobain karena saya lebih suka es degan dengan gula jawa atau gula merah.
Tak perlu jeda lama makanan pun tersaji.
 Hanna Sup

 Ulala saya sempat kaget dengan mangkok besar dan kuah yang melimpah di hadapan saya. Saat dicicipi rasanya tak jauh dari sayur sop rumahan. yang bikin istimewa adalah gulungan daging berbalut telur dan irisan daging sapi kecil-kecil yang agak alot.

daging ayam giling berbalut telur

Untuk gado-gadonya standar, dengan harga cukup terjangkau makanan ini cukup memuaskan dan mengenyangkan. Kali ini saya iriiii dan siap merusuhi orang di samping saya. hahaha

Gado-gado Hanna Resto

Kelar acara santap, siap-siap untuk mendokumentasikan gambar. Tak lupa nasrsis juga.


Hanna Resto juga ada tempat duduk di dalam rumah seperti ini. Namun para pengunjung lebih suka seat outdoor.
Seat indoor Hanna Resto

Seat outdoor 1


Seat outdoor 2

Toilet Hanna resto juga bersih lhooo

Toilet duduk

Mushola Hanna Resto juga nyaman banget


Ayo siapa pengen nongkrong cantik, kesini aja, tapi nggak ada seat lesehan ya, 
Tapi siap-siap saja dipanggil bapak atau ibu, walau kamu masih muda, unyu dan belum berkeluarga. hihihihihi

Sabtu, 21 Maret 2015

Rimbunnya Kafe Ole'

Wiken yang seru....saya pikir ini hari minggu. Tapi eh, ternyata besok masih tanggal merah, asyiik. Siapa sih yang nggak suka hari libur dan bisa nyantai di rumah. Semenyenangkannya pekerjaan buat saya. Tetep dong, nggak ada yang ngalahin enaknya molor di kasur buluk, hihihi. 


Nah, mumpung libur nyepi, tadi itu saya jalan-jalan ke beberapa tempat yang seru, terus nyoba makan di Kafe Ole' Salatiga. Iya nih, semenjak mau rajin ngeblog jadi pengen eksplor tempat-tempat baru. Nah, tiba-tiba aja kepikiran nih kafe. Nglewatin jalan itu terus tapi kok nggak tahu dalemnya sih. Kalau dari luar kayak kebun gitu. Tapi pas browsing di internet juga jarang yang review. Oke deh, harus dicoba nih. Moga aja harganya bersahabat *terus mikir sebulan kedepan :D

Letak kafe ini dekat banget sama jalan raya utama, hanya beberapa meter jalan kaki dari patung Ganesha. Tepatnya di Jl. Tentara Pelajar no 61 Salatiga. Jalan kaki juga cuma mak nyuk gitu. Arahnya ke kampus IAIN Salatiga (dulu STAIN Salatiga)

                                                           
Tampak depan


Dari jalan raya


Lahan parkir yang luas
                                               

Seakan menuju dunia penuh misteri

Memasuki lokasi kafe seperti hendak wisata kebun, ditambah cuaca yang agak mendung, hmmm, dinginnya, brrr. Dulu setiap melewati kafe ini yang saya bayangin adalah uler alias ulat bulu. Entah mengapa pas di lokasinya nggak kepikiran sama sekali.
Okeh, saatnya narsis tidak boleh terlewatkan, sebelum pesen makanan, mari menjelajah hutan kecil ini.


selalu ngepink (emang punyanya ituh :D)

Ada jalan setapak dengan dasar bebatuan dikelilingi gazebo-gazebo yang terlihat sejuk 


kayak kenal tas bulughnya :D

Sudah narsis-narsis ria ayo ke tujuan utama. Yaitu, MAKAN! Mari kita lihat menu apa saja yang ditawarkan kafe ini. Apakah harganya bikin saya menelan ludah, atau????
Oh ya, sebelum pesan makanan, saya sempat bingung cari tempatnya. Eh taunya di dekat bar. 


Tempat memesan 

Pas mau pesan, si mas yang jaga nggak bilang apa-apa atau menyambut gitu. Karena list menu udah disediakan, pun nggak dikasih nota yang ada karbonnya buat nyatet pesanan. Eh, pas saya minta, si doski cuma ngasih brosur yang udah dicoret-coret. Ya sutralah.

Ini daftar harga minumannya, lumayan bersahabat buatmu?



Menu makanannya ada Indonesian, Chinese dan western food, saya sih pesen kwetiaw goreng dan yang memfotoku pesen chicken crispy steak. Itu masih taraf harganya yang belasan ribu * tetep iritz
Nah, karena saya lagi pilek, minumnya pesen peppermint tea gitu, harganya Rp. 8.000. Misal pengen bikin teh kayak gini di rumah juga bisa, tinggal tambahin minyak kayu putih, hihi. Jadilah teh rasa mint, *menyesatkan 

Ini dia penampakan pesanan kami


hemmm....lavar

Pertama datang adalah minumannya, rasanya sih biasa. Namun, cukup membantu meredakan hidung mampet, hehe. kewtiaunya gorengnya enyak, fotograferku iri. Soalnya rasa steaknya biasa banget kayak chicken nugget nggak dibumbuin, tapi eatable lah ya. soalnya tandas habis gitu, hehe.


Eahhh, kenyang.

Ayo ke sini, tempatnya cozy banget. Toiletnya bersih, ada musholanya juga, walau tempatnya di pojokan, hiiii


Ini mau ke mushola apa ke sarang penyamun, hihihi

Ternyata ada space untuk nyanyi juga yah, mungkin buat menghibur pengunjung pas malam gitu.



Ahhh, kelar sudah kuliner hari ini, saat yang paling menyedihkan adalah ketika pahlawan-pahlawan berguguran dari kantong. Semoga ada rezeki lagi ya, biar saya bisa berbagi info tempat makan lainnyah. Tinkyu :*

Sabtu, 22 Maret 2014

Donat Gundah Gulana

Ngeblog  lagi..
Kali ini pengen cerita tentang hobi yang mendadak jadi pelampiasan kekesalanku. Tau apa???
Memasak! Fyuh….
Gak tau kenapa, mungkin lagi kerasukan setan patah hati. Jadi terpikir memasak kudapan ringan. Kayak kapas atau kapuk, hhihihi. *kan ringan ya?
Oh ya, patah hatinya itu karena cita-cita yang belom aja kesampaian. Hiks. Sedih yay….
Ya….sebodo deh, yang penting udah usaha, moga bentar lagi ada kabar menggembirakan. Amiin

Yaudin, masak-memasak kali ini….diawali dengan basmallah dan diakhiri dengan makan, huehehehe.
Jadi, ceritanya aku kepikiran buat donat. Padahal aku sendiri  nggak gitu doyan roti yang digoreng-goreng begitu. Nggak tahu deh tuh pikiran. Nah, demi merealisasikannya, aku pun beli bahan-bahan buat donat. Yakni, tepung protein tinggi (aku pakenya beruang biru) ragi instan (aku pakenya fermipan), susu bubuk (Aku pakenya dancow rasa vanilla), meses (mereknya Bella). Sementara margarin, telur, gula air, dan garam udah ada di rumah. Oh ya, aku nggak ngajarin cara buat donat loh ya. Jadi ini cuma cerita-cerita ketika saya khilaf, hehehe.

Sesuai tutorial yang kudownload di You Tube, membuat donat itu enaknya pake kentang. Oh yeah?? Kata ibuku juga gitu sih. Kalau nggak pake kentang rasanya kayak gombal, nyethak alias kraket ning cethak *maaf spelling bahasa Jawa tidak bisa ditampilkan :D. karena aku ini tipe orang nggak sabaran, grasak grusuk dan main tancap aja. Maka, tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas. Aku pun mencari baskom, langsung menuang gandum alias tepung tanpa ukuran, yah pokoknya segitu. Terus abis gitu kuning telur susu bubuk dan ragi instan. Saat aku menguleni, ibukku tanya.
“Kok nggak pake kentang, ntar nggak enak?”
“Lha wong kentange aja belum digodok kok. Udah, nggak usah pake kentang,” jawabku.
“Lho entar nggak enak. Digodok dulu wes. Kamu ki wong ox kesusunan. Mau masak tu bahan-bahan siapin, bekakas’e diasahi, nggone diresikki dll…dll…dll.”
Dan akhirnya kentang pun saya godok alias direbus atawa tidak dikukus. Karena ngerebusnya nggak niat dan pake rantang alumunium. Walhasil air rebusan cepat habis dan kentang pun mogol (tidak matang. Dengan keadaan begitu saya tetep blender setelah sebelumnya dipotong-potong. Dan benar saja, blendernya cuma menggerung-gerung si kentang tetap pad posisinya *bego-bego.
Akhirnya saya pasrah nggak pake kentang. Dan ibukku udah sewot, dan bilang nggak mau makan kalo rasanya kayak gombal. Sepo….sepo, huhuhuhu
Well tanpa kentang saya pun mengrukup adonan yang telah kalis dengan lap yang agak damp *ala chef farah.
Sekali lagi, karena aku orangnya nggak sabaran, adonan itu Cuma kudiamkan 15 menit, huhuhu. So, jadinya nggak keliatan menggembung dan bisa ditinju deh. Yaudah lah, dari situ langsung kubulet-buletin aja. And….didiemin lagi kira-kira dua puluh menit. Dibuka, terus dibolongin, then digoreng deh.
Walaaaa….dan rasanya enak banget. Ibukku mau makan gitu. Soalnya mamiku itu jujur banget. Kalo ga doyan nggak bakal disentuh. Seneng-seneng. Padahal donatnya nggak pake toping apapun lhoo. Akhirnya donat pun habis . ini diaa potonya….(diambil pas malem-malem)