Tampilkan postingan dengan label Terjemahanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2014

A Little Orange in the Big Apple (BAB 16)

16. Badai

“Ayo semua berpakaian tebal. Berita di radio mengumumkan ada badai besar menuju tempat kita,” George memperingatkan.
Ya, Ali sudah melihat perubahan cuaca itu, terasa semakin dingin. Di taman, daun-daun cantik warna merah, kuning dan keemasan bertebaran, jatuh menutupi jalan-jalan dan rumput.
Beberapa hari ini, angin tak seperti biasanya.
“Pakai jas hujan kalian,” kata Caroline pada anak-anaknya.
“Jika badai benar-benar buruk, sekolah akan memulangkan murid-murid lebih awal.”
“Ya, kuharap itu benar-benar terjadi,” Sahut Reynolds.
“Jika kalian nanti dipulangkan, telepon ibu segera dan jangan kemana-mana,” tambah Caroline.
Benar juga, badai besar sampai di New York City. Bahkan ia punya nama, Badai Hazel. Anak-anak dipulangkan lebih awal. Sulit rasanya berjalan dengan angin dan hujan yang seolah dituangkan ke seluruh penjuru kota.
Caroline pulang lebih awal, mengambil surat di weselbor lobi lalu ke atas mencari anak-anaknya yang sedang menonton badai dari jendela ruang tamu.
“Wow, Ibu kau hampir takkan bisa melihat apapun di luar sana. Hujan dan angin begitu besar,” ujar Reynolds.
“Ya, bahkan taman pun tidak terlihat. Lihat Ibu, jendela tampak buram dan dengarlah gemuruh angin itu,” seru Ali yang begitu senang ibunya bersama mereka.
“Ini adalah yang paling ganas.  Walau demikian, ibu ingin kalian mengerjakan PR sekarang. Ibu mau mengurus pakaian yang basah dan membuat coklat panas untuk kita,”
“Dengan marshmallow?” tanya Ali.
“Tentu,” sahut ibunya.

Caroline menyalakan televisi, tapi salurannya sangat jelek karena badai. Ia pun menghidupkan radio, lalu duduk di meja dengan surat dan cokelat panas. Saat memilah surat-surat tagihan, dilihatnya sebuah surat yang ditujukan kepada George Spain dari seseorang bernama Marsha O'Mara. Ingatannya langsung mengacu pada ‘Marsha Darling’ —yang disebut-sebut Reynolds.  Hatinya bertanya-tanya tentang isi surat itu.
Sementara anak-anak mengerjakan PR, Caroline memutuskan membuka surat itu. Setelah membacanya, ia mulai menangis sehingga menyebabkan anak-anaknya terkejut.
“Ada apa Bu?” tanya Reynolds. Caroline cepat-cepat menyembunyikan surat itu dan mengatakan bahwa perubahan dalam hidupnya akhir-akhir ini terkadang membuatnya emosional.
***
Badai yang berembus kencang di sekitar apartemen mereka membuat sulit tidur malam itu. Walau akhirnya Reynolds tertidur, tapi mata Ali masih terbuka lebar ketika terdengar ayahnya menutup pintu depan dan berjalan melewati kamarnya. Dia ingin mendapat dan memberikan ayahnya pelukan, tapi sudah terlalu malam.  Jadi dia tetap berdiam di tempat tidur kecilnya yang hangat dan mendengarkan percakapan orang tuanya.
“Badai yang sangat besar, Sayang! Aku basah kuyup sampai ke tulang. Apakah kau membuat kopi panas?” tanya George.
“Mungkin Marsha Darling bisa membuatkan untukmu.” jawab Caroline dingin.  Ali bisa mendengar semuanya, tapi menurutnya tak masuk akal baginya, bahwa seseorang bernama Marsha harus membuatkan kopi untuk ayahnya.
“Kamu bicara apa sih?” tanya George.
“Aku membaca surat ini. Kupikir tak butuh daya pikir untuk sekedar memahaminya.”
Caroline memberikan surat itu, setelah satu atau dua menit, George mengatakan
“Aku tak tahu apa yang harus kukatakan Caroline.”
“Mungkin kita perlu waktu untuk berpikir tentang banyak hal George. Kau bisa tinggal di hotel malam ini sampai kita bisa bicara tentang semuanya.”
Ali bisa mendengar jejak ayahnya saat meninggalkan apartemen dan menutup pintu. Dia
benar-benar bingung. Mengapa ayahnya malah keluar lagi dalam badai yang mengerikan? Mengapa ia akan kembali ke hotel? Mengapa orang tuanya perlu bicara tentang segala hal?


Terdengar suara angin menderu dan  mengguncang jendela kecil di kamar tidur. Ali turun dari tempat tidur dan berlari ke ruang tamu, tempat ibunya biasa tidur.
“Kenapa kau bangun Ali? Masih terjaga?” tanya ibu mengejutkannya.
“Angin membuatku takut. Kenapa ayah keluar lagi?”
“Kau bisa tidur denganku malam ini, Sayang. Kemarilah dan  tidur, kita akan membicarakannya besok.”
Ibunya menarik selimut untuk menutupi putrinya dan memeluknya erat-erat sampai mereka berdua akhirnya tertidur.
Keesokan paginya Caroline menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa ayah mereka pergi untuk sementara, sampai semuanya membaik.
“Semuanya tentang apa Bu? Ali benar-benar bingung.
“Semua hal-hal yang berbeda. Beberapa masalah orang dewasa dan kau belum  mengerti, Ali. Nah sekarang, kalian berdua. Cepatlah kenakan sepatu karet dan jas hujan untuk berjaga-jaga Cuaca cukup bagus pagi ini. Sampai jumpa nanti saat ibu pulang kerja.”
Reynolds hanya mendengarkannya ia pun bingung. Hingga sepulang sekolah, Ali mengatakan pada kakanya apa tentang semalam didengarnya.
“Marsha Darling ya.” tanggap Reynolds sedikit menyeringai.
“Dia wanita lancung yang bernyanyi dengan ayah.” terang Reynolds. “Ayah suka Marsha Darling.” tambahnya.
“Ayo, kita pergi ke gedung pertunjukkan dan melihat apakah ayah disana. Siapa tahu mereka sedang latihan.” ajak Reynolds pada adiknya.
Mereka berjalan menuju gedung pertunjukkan. Ali masih mencoba memahami percakapan orang tuanya tadi malam. Sedangkan Reynolds geram pada ayahnya.
“Mengapa dia meminta kita pindah ke New York, kalau dia begini?” desis Reynolds. Ali tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mengikuti kakaknya. Ketika mereka sampai ke pintu gedung pertunjukan, Reynolds bertanya pada seseorang apakah ada ayahnya di sana. “Oh, tidak ada Nak, sepertinya dia sedang di restoran seberang jalan.”

Anak-anak menyeberang jalan dan melihat dari luar jendela. Ayah mereka sedang duduk di samping seorang wanita berambut merah yang menangis dan memegang tangannya
“Nah, itu dia Marsha Darling.” desis Reynolds muak.
Ali bertanya-tanya mengapa wanita itu menangis. Apa ayahnya yang membuatnya menangis? George dan Marsha tidak menyadari mereka berdiri di sana.
“Ayo, kita pergi dari sini.” ajak Reynolds. Ali membuntut di belakangnya. Ali tidak melihat Reynolds menyeka air matanya.
George kembali menempati Hotel Preston, ia pun menjelaskan pada dua anaknya walaupun ia dan Caroline dalam masalah. Ia tetap menyayangi mereka. Reynolds kecewa dengan ayahnya dan lebih sering menghindar, tapi Ali merindukannya. Rasanya baru sebentar mereka bersama, tak lama ayahnya pergi lagi.

Suatu hari George mengajak Ali ke Central Park. Mereka berjalan di sepanjang jalur yang terdapat patung penulis terkenal di setiap sisinya. Salah satu favorit Ali adalah patung seorang laki-laki yang duduk dengan anjingnya. Jika dia berjinjit dan berpegangan pada ekor anjing dan sepatu kanan pria yang memangku sebuah buku. Maka dia bisa memanjat patung itu.
“Ngapain di sana dengan Sir Walter Scott?” tanya ayahnya. “Lebih baik turun atau kau bisa ditangkap.” canda ayahnya.
Saat mereka meneruskan jalan-jalan lagi, ayahnya bersenandung. Kadang-kadang  menyanyikan lagu-lagu pertunjukan dengan orang-orang di sekitar yang memperhatikannya.
“Orang-orang menatapmu Yah.” lapor Ali malu-malu.
“Tak apa-apa Pumpkin. Ayah seorang penyanyi dan ini New York. Tak ada yang peduli kau mau bernyanyi atau jungkir balik.” katanya sambil tersenyum. Kemudian ayahnya mendudukkan Ali di sebuah bangku, ia mundur beberapa langkah dan membungkuk hormat.
“Ayah tahu ini lagu favoritmu.” ujarnya. Ayahnya mulai menyanyikan lagu “Rhymes Have I” sambil berakting seolah-olah sedang di atas panggung. ia melanjutkan nyanyiannya sampai sambil jalan-jalan. Beberapa orang yang duduk di rumput dan bangku di dekatnya bertepuk tangan.

“Terima kasih . Terima kasih banyak.” ucap George.
Mereka pun berjalan kembali ke arah taman bermain di mana Ali bisa mendaki batu bersama bersama ayahnya. Ia memanjat bebatuan seperti kambing gunung, lalu bergegas turun lagi sementara ayahnya menonton. Selanjutnya, Ali mengajak ayahnya ke ayunan dekat pagar. Mula-mula ayahnya mengayun sebentar, kemudian ia duduk di sampingnya.
“Sayang, aku minta maaf tentang hal-hal yang mulai membuatmu bingung.” ayahnya mulai berbicara serius. Hubungan Ibu dan ayah sedang tidak baik. Ayah yakin kau telah menyadarinya. Itu bukan salahnya. Tentu saja itu salah ayah. New York begitu menakjubkan, tapi mungkin bukan tempat yang baik bagi kita.  Kau tahu kan ayah sudah pindah ke hotel. Kau bisa mengunjungi ayah. Teleponlah, dan ayah akan siap disana.
“Oke Yah.”
“Ayah tahu Reynolds kecewa denganku. Kalau kamu gimana Pumpkin?” tanya ayahnya.
“Aku menyayangimu.” cuma kalimat itu  yang ada di pikiran Ali.  Ayahnya mengulurkan tangan dan mengambil sepotong tali kecil dari arena tempat bermain dan mulai menyanyikan sebuah lagu dari pertunjukkannya “Kismet” dengan suara keras. Ali sama sekali tidak yakin nyanyian itu menceritakan tentang apa. Tetapi ia sangat senang mendengarkan dan menonton ayahnya berpura-pura bernyanyi di panggung. Pada lirik terakhir lagu, ia meraih tangan Ali dan mereka mulai berjalan kembali ke 59th Street menuju Osgood.

A Little Orange in the Big Apple (BAB 15)

15. Apartemen Kecil di Kota Besar

George telah kembali dari suatu keperluan dan tiba di apartemen tak lama setelah insiden ‘Paman Bill’. Mereka berdua mendapat masalah, Reynolds meninggalkan Ali sendirian dan Ali  berbicara dengan orang asing.
“Apa hal pertama yang ayah katakan pada kalian?” tegas George. “Buddy System!” serunya keras, menatap bergantian pada Reynolds dan Ali. Kita disini baru satu minggu, dan sekarang?” ia menggeleng-geleng dalam kekecewaan.
“Mari kita lihat di mana orang gila ini biasa berkeliaran,” ajak ayah mereka marah.
“Kejadian ini untuk pengalaman,” katanya berpaling kepada Ali “sebagai pelajaran, jangan pernah membiarkan seseorang menyentuhmu seperti itu, mengerti?”
“Ya, Ayah.” jawab Ali dengan bibir gemetar dan hampir menangis.
“Tidak usah menangis, Pumpkin.”  Ayah ingin kau baik-baik saja. Bersikaplah  waspada di mana dan siapa pun yang sekitarmu, paham?
“Ya, ayah.” Ali merasa dia telah mengecewakan ayahnya. Dengan cepat mereka meninggalkan hotel dan bergegas ke taman untuk menemukan ‘Paman Bill’.
“Orang gila ini pasti mendekat di mana ada anak-anak.” kata ayah mereka geram. Mereka berkeliling mencari orang tua itu, tetapi tidak menemukannya. Ketika Caroline kembali ke hotel, ia pun diceritakan kejadian tadi.
“Kamu baik-baik saja kan Sayang?” cepat-cepat ibunya menoleh ke Ali.
“Aku baik-baik saja ibu,” jawab Ali gelisah di kursinya.
“Dan kau, Reynolds. Apa yang ibu katakan pagi tadi?” Caroline kesal pada putranya.
“Ibu menyuruhku menjaga Ali dan langsung ke sekolah dan aku melakukannya.” jawab Reynolds mencoba berkelit dari kesalahannya.
“Jangan berlagak pintar denganku, tuan, " tukas Caroline.
“Kau membiarkan mereka berjalan sendiri ke sekolah pada hari pertama?” George melihat istrinya.
“Kami tadi semua hampir terlambat…..”
“Terlambat? Kau selalu terlambat. Seharusnya kamu mempersiapkan terlebih dahulu, terutama untuk anak-anak, dan….”
“Jangan mengajariku tentang mengatur anak-anak, George. Kau tidak pernah pulang dan tidak dalam posisi….”
Hal ini berlangsung sedemikian rupa. Ali dan Reynolds duduk di meja mendengarkan mereka bertengkar, dan mulai berpikir betapa berbeda semuanya dari apa yang mereka kira. Ali membayangkan keluarganya bersama-sama akan meyerupai gambar dalam buku Dick dan Jane. Atau sebuah keluarga di televisi di mana semua tampak tersenyum dan bersenang-senang.
Reynolds tidak suka ayah kecewa padanya. Ayahnya tidak pernah bersamanya cukup lama. Sekarang, ia malah mendikte apa harus dilakukan dan memarahinya. Dia mengusir orang tua gila itu ‘Paman Bill’ dan menyelamatkan Ali, tetapi tak seorang pun ingat bagian itu.
***
Oktober segera tiba dan keluarganya pindah ke Osgood Apartments. Jauh lebih nyaman daripada Hotel Preston. Ada kanopi membentang dari jalan masuk ke apartemen. Seorang pria berseragam membuka pintu depan yang besar untuk orang dewasa, tetapi jika yang masuk Ali dan Reynolds saat pulang dari sekolah, dia tidak mau repot-repot.
Di dalam bangunan ada ubin indah dan batu yang melapisi segala sesuatunya, dinding, lantai, dan langit-langit. Pintu yang terbuka otomatis, dinding dengan dominasi warna merah dan emas. Seribu kali lebih cantik dari yang ada di Hotel Preston. Kelihatan seperti dalam film.
“Kita ke arah mana Bu?” tanya Ali ketika mereka pertama kali melangkah ke lobi. Reynolds sedang bersama ayahnya di gedung pertunjukkan.
“Ayahmu mengatakan di sisi sebelah kiri ada lift dan naiklah ke lantai 7.”
“Tapi tidak ada ada lift juga di sebelah situ.” kata Ali. Saat itu seorang pria yang mendengar percakapan mereka, menatap Ali dan berkata.
“Oh tidak, itu liftku, kamu tidak bisa menggunakannya gadis kecil.” Dia tertawa terbahak-bahak  kemudian bergegas keluar ke pintu depan lobi.
Wanita di meja depan bertanya kepada Caroline apakah dia tahu orang yang baru saja berbicara dengan Ali.
“Maksudmu lelaki berambut abu-abu keriting yang mengatakan kepada kami untuk tidak menggunakan liftnya?  Dia hanya bercanda dengan Ali,” kata Caroline.
“Itu tadi Mr. Leonard Bernstein, musisi besar dan pemimpin orkes.”
“Benarkah? Aku harus memberitahu suamiku ketika kami bertemu nanti,” balas Caroline sembari berjalan menuju lift di sisi kiri lobi.
“Ibu bisakah aku menggunakan tangga?”  pinta Ali.
“Sampai lantai 7?” ibunya ragu.
“Aku yakin bisa mengalahkanmu Bu!” Ali meyakinkan, siap menghadapi tantangan.
“Nah, liftnya belum datang. Silakan. Lihat! Apakah kamu punya cadangan energi sampai waktunya tidur,” tantang ibunya.
Ali melesat menaiki tangga, memegang pegangan mahoni indah dan melompat dengan pesat, melewatkan beberapa langkah saat menaiki tangga yang elegan. Lantai pertama, kedua, ketiga.
Ali menatap sekilas kursi kulit besar di lantai dasar dimana pelayan lift duduk-duduk di sela pekerjaannya.  Dia terengah-engah, tapi terus bergegas. Lantai 4, 5 6. Saat ia mencapai lantai  7, pintu lift terbuka dan keluarlah ibunya.
“Satu sama.”seru Ali, sangat bangga pada dirinya, walaupun sampai kehabisan napas.
Sekarang waktunya menemukan pintu apartemen mereka, 7Q. Dimana-mana ada pintu.  Sekali lagi Ali memikirkan buku favoritnya, ketika Alice menemukan koridor penuh pintu.
“Itu dia, Sayang.”
“Ini dia rumah barumu.” ujar Caroline pada putrinya saat ia memutar kunci dan masuk ke dalamnya. Apartemen merupakan tempat yang sangat berbeda untuk ditinggali, sungguh jauh dari rumah mereka di River Street.
Dari sini tampak beberapa gedung yang menghadap Central Park dan kita juga bisa melihat sebuah kastil. Ali berencana kapan-kapan mengajak Reynolds menjelajah dan berjalan-jalan sepanjang jalan ke kastil.
Di ruang tamu ada sofa, kursi, sebuah televisi kecil dan meja makan kecil di samping jendela. Ada juga piano (punya Madame Fifi yang tertinggal ketika ia pindah) dengan pemutar piringan hitam di atasnya. Tirai panjang kemerahan tergantung pada setiap jendela besar yang menghadap ke taman dengan radiator di bawah jendela untuk menjaga agar apartemen tetap hangat selama musim dingin. Lantainya terbuat dari kayu berbentuk kotak-kotak kecil yang indah dengan karpet besar dengan desain kisaran merah, hitam dan emas. Terlintas di benaknya bahwa segala sesuatunya tampak mini, tapi nyaman. Di kamar tempat ia dan Reynolds akan tidur, diletakannya Smokey Bear. Reynolds sudah memasang tulisan “Dilarang Masuk”(Terutama untuk adiknya).
Kamar mandi di sana sangat kecil, lantainya terdiri dari lima ubin putih persegi dan bak mandi kaki-kakinya memiliki cakar seperti hewan. Dengan  hati-hati Ali mengangkat tutup toilet duduk untuk memeriksa buaya. Kabar baiknya tidak ada apapun disana, setidaknya belum. Di dapur, Ali merasa seperti “Big Alice dalam bukunya karena bis kitaa ke bak cuci, membuka pintu oven, dan berbalik duduk di meja tanpa lebih dari satu langkah!
Malam pertama mereka di Osgood meninggalkan kenangan buruk. Saat Ali pergi ke dapur untuk minum susu sebelum tidur dan menyalakan lampu. Tiga kepinding besar dan hitam merangkak sangat cepat sepanjang dinding ke tempat mereka bersembunyi di balik kompor yang hangat. Ali menjerit dan Ibunya berlari menghampiri.
“Benar kata Nenek Agnes tentang kepinding.” kata Ali sambil bergegas meninggalkan dapur dan kehilangan minat untuk minum susu.
***
Semua orang kembali ke rutinitas masing-masing: anak-anak bersekolah, Caroline bekerja di kantor sebrang dan George bernyanyi di pertunjukkan tengah malamnya. Ketika Ali dan Reynolds kembali dari sekolah. Pertama-tama mereka mengerjakan PR, kemudian menonton televisi jika pengin. Setelah itu mereka diizinkan ber-Buddy System untuk pergi ke taman atau ke Drug Store.

Sesaat setelah memasuki Drug store, mereka melihat ke meja permen, kemudian memastikan uang di genggaman untuk memutuskan apa yang dibeli hari ini. Kadang-kadang permen, kali lain soda di air mancur.

Wanita di kasir pada awalnya mengatakan hal-hal seperti ini “Ayolah anak-anak, aku tak hanya melayanimu saja, cepatlah putuskan. Mau beli permen atau coke?” Tapi, setelah beberapa kali datang kesana, karyawan itu tampak sedikit ramah.
Waktu itu, saat mereka kesana untuk makan siang. Ibu memesan kopi dari orang yang bekerja di belakang air mancur. Beberapa menit berselang, ibu meminta krim dan gula.
“Nyonya, jika Anda ingin krim dan gula, mintalah tadi sekalian! Kalian itu lucu.”
kata pria di belakang meja pada ibu mereka.
“Begitukah? Nah, memang kami dari California,” jawab Caroline mencoba tetap ramah
“Oh pantas.” balas pria itu, berbalik lalu pergi. Ali tidak mengerti apa maksudnya. Tapi  terasa aneh kalau orang itu berpikir mereka berbicara lucu. Justru sebagian besar orang-orang yang ditemuinya di New York City itu yang lucu.

A Little Orange in the Big Apple (BAB 14)

14. Sendirian di New York City
Senin akhirnya datang,  tiba waktunya Ali dan Reynolds memulai sekolah di P.S 69. Hari pertama juga bagi ibu mereka untuk kembali bekerja. Luar biasanya, kantornya tepat di seberang jalan Osgood Apartments di mana mereka akan tinggal di sana beberapa hari lagi.
Pagi itu ketiganya pergi diam-diam dan bergegas seperti tikus agar tidak mengganggu ayahnya yang terlelap. Pekerjaannya menyanyi dalam pertunjukkan Broadway membuatnya pulang setelah orang-orang mulai bangun. Selain karena ia suka kongko bersama teman-temannya di toko delicates (toko yang menjual makanan sudah dimasak dan siap dimakan) setelahnya.
Orang tua mereka sudah membahas perbedaan jam ini, dan mengatakan memang rumit awalnya, tetapi akan terbiasa nanti. Caroline diam-diam menutup pintu kamar hotel dengan George mendengkur nyenyak di belakangnya.
“Bagus anak-anak, kita tidak membangunkan ayahmu.”
Mereka pun bergegas ke lift. Caroline berjalan sedikit terlambat dari biasanya. Lalu  melihat jam tangannya dengan cemas.  
“Semoga ibu bisa mengantar kalian berdua ke sekolah dan masuk kantor tepat waktu.” Caroline menggigit ujung bibirnya.
“Ibu, aku tahu jalannya kok. Aku akan menjaga Ali. Ibu tak perlu mengantar kami.” kata Reynolds terlihat sangat dewasa.
 Caroline menatapnya dan berpikir tentang pernyataan barusan.
“Ibu tidak tahu….”
“Kita bisa sendiri, ya kan Ali?” Reynolds menoleh adiknya. Reynolds memang anak kambuhan. Tapi dia tahu bagaimana membuat hal-hal mencengangkan. Ali ingat bagaimana ia dan Reynolds naik sepeda sepanjang jalan turun Van Nuys Boulevard di Valley sekitar 5 kilometer untuk menemui Nenek Nettie beberapa tahun lalu. Hingga membuat nenek dan ibu mereka tercengang.
“Tentu.” sahut Ali agak gugup.
“Oke Reynolds, langsung ke sekolah lho dan jaga adikmu.” pesan Caroline terlihat bimbang. Caroline memeluk kedua anaknya di depan gedung tempat ia bekerja.
Ali dan Reynold menuruni jalan 57th Street.
“Ini dia penjaranya.” gumam Reynolds saat mereka tiba di sekolah dan menuju ke atas, tempat kantor administrasi. Wanita di kantor bertanya ke mana orangtua mereka.
“Ayah tidur dan Ibu tak mengantar kami” jawab Reynolds. Ada benarnya juga sih.
“Hmm, aneh.”
“Reynolds, kamu di kelas 6, ruang 244. Ali, kamu di kelas 3, ruang 248. Kalian telah melewatkan sekolah selama seminggu.” katanya sembari mengintip dari atas kacamata yang melorot.
“Yah, kita baru sampai dari California.” jawab Reynolds santai.
“Aku punya paman yang tinggal di California.” balas wanita itu.
“Kami juga.” jawab Ali bangga. Dia teringat Paman Dan.
Kemudian dua wanita di kantor mengawal Ali dan Reynolds ke kelas mereka. “Sampai jumpa Squirt” kata Reynolds pada adiknya. Mereka menuju arah yang berbeda.
“Ini Alison Spain. Dia berasal dari California.” kata wanita yang mengantar Ali kepada Mrs Goldie. Wali kelasnya yang baru di kelas 3 ruang 248. Murid-murid menoleh ke Ali dan tertawa sebentar ketika mendengar namanya. Ali malu karena gelak tawa mereka.
“Di daerah California mana asalmu? tanya Mrs Goldie.
“The San Fernando Valley, tepatnya Sherman Oaks.” jawab Ali lebih akurat.
“Kamu dari Spanyol?” tanya seorang anak laki-laki dengan suara keras sambil menyeringai.
“Tidak, California.” jawab Ali, ia tidak menyukai nada sok pintar anak itu.
“Dan panggilanku Ali.” dia cepat-cepat menambahkan karena tidak ingin dipanggil Alison.
 “Ali. Selamat Datang di P.S. 69 dan kota New York, sayang.” sambut Mrs Goldie, lalu mengucapkan terima kasih kepada wanita yang mengantar Ali ke kelas.
“Ali, silakan duduk disana, dekat jendela.” perintah Mrs Goldie. Ia sangat menyenangkan dengan aksen Brooklynnya. Rambutnya panjang abu-abu dan memakai kacamata berbingkai merah.
Dia menghabiskan waktu bersama Ali selama istirahat sambil menceritakan semua hal yang akan dilakukan di kelas 3. Ali tidak khawatir tentang tugas membaca, tapi dia resah dengan pelajaran Matematika. Ia tidak suka. Membaca dia suka, kickball juga, tapi tidak Matematika.
Ali memandang sekeliling kelas kecil yang nyaman. Ada meja-maja kayu dengan lubang di sudut kanan atas. Kita bisa mengangkat bagian atas meja dan menaruh pensil serta buku catatan di dalamnya. Ada gambar seorang pria botak dengan senyum lebar dan George Washington di dinding depan. Sebuah globe berdiri di sudut bersama sebuah kamus yang besar. Radiator kuno berderet di dinding dekat jendela. Ada taman kecil untuk bermain yang dikelilingi oleh bangunan, lemari besar terdapat di belakang di mana anak-anak menaruh jaket dan topi mereka selama musim dingin.
Tapi yang paling menarik bagi Ali saat melihat teman-temannya. Di Sekolah Dasar Hazeltine di Valley, semua anak terlihat sama dengan seragam. Di P.S 69, sebagian besar tampak seperti Reynolds dan Ali, tetapi beberapa dari mereka kelihatan berbeda.
Ada seorang anak kecil kelihatannya sih dari Jepang, ia mengenakan kemeja putih dan dipadu dasi dan berbangga hati bahwa ayahnya  musisi. Ada gadis Negro, Annie, dengan banyak kepang ketat, ia melihat Ali dengan tatapan aneh. Lantaran Ali memakai rok. Padahal cuma ke sekolah ia memakai rok. Terpaksa deh, karena dia perempuan.
Betapa tidak adil, pikirnya. Seorang gadis kecil bernama Miranda yang orang tuanya pindah dari Kuba mengenakan baju merah cerah bermotif yang dibuatkan sang nenek untuknya. Berbeda dengan gaun Miranda, Ali mengenakan jumper polos abu-abu dengan blus putih. Ibunya mengatakan itu simpel, karena Ali bisa mengganti blus setiap hari dan memakai jumper yang sama sepanjang minggu.
Tepat pukul 03:00, bel berbunyi dan anak-anak bergegas keluar dari kelas, semua anak buru-buru pulang. Ali bertemu Reynolds di tangga dan mereka saling berkomentar tentang hari pertama di kelas.
“Membosankan,” kata Reynolds. “Aku sudah tahu semua hal yang mereka ajarkan.”
“Aku suka guruku, Mrs. Goldie. Annie dan Miranda teman yang menyenangkan.”
“Eh  Ali, ada tempat namanya 'Playland' beberapa blok dari sini. Kesana yuk? Aku dan ayah pergi kesana tempo hari. Mereka menjual trik sulap, ada mesin pinball dan permainan menembak. Kamu ada uang?
“Ibu ingin kita langsung pulang, ingat kan Reynolds?”
“Aduh, kamu memang tak tahu bersenang-senang,” cibir Reynolds.
Mereka berjalan kembali ke Broadway. Ali mengawasi kakaknya yang berjalan cepat beberapa langkah di depannya. Matanya terus terpaku padanya. Dia tak ingin tersesat.
Reynolds berbalik tiba-tiba di jalan Broadway dan memberi petunjuk pada adiknya.
“Teruslah berjalan lurus di jalan ini untuk ke 61st Street dan kamu akan sampai di Hotel Preston. Aku mau mengecek beberapa trik sulap di Playland sebentar saja.” Ali menatapnya dan kemudian melihat jalan ke arah hotel mereka. Tepat pada saat itu dia merasa sangat mirip Alice dalam buku yang dibacanya. Tapi dia berada di New York City dan sendirian.
Dia menatap tanda-tanda jalan yang tertera 54th dan Broadway dengan berjinjit. Di seberang jalan terlihat sebuah teater CBS TELEVISION. Reynolds telah menghilang seketika di antara kerumunan pejalan kaki.
“Huh, siapa juga yang butuh dia? Aku bisa pulang sendiri,” gumam Ali bercampur kekesalan pada kakaknya dan ketakutan pulang sendirian.
Dia berjalan dekat gedung-gedung dan menyaksikan semua orang terburu-buru. Mereka bahkan tidak memperhatikannya. Berkali-kali orang-orang di sekelilingnya berseru "Awas Nak! " Dia hampir tak terlihat. Ketika sampai ke tanda yang tertulis 57th Street, ditatapnya gedung dimana ibunya bekerja. Satu blok lagi pasti akan sampai ke The Drug Store. Diintipnya jendela dan melihat wanita di depan mesin hitung yang pernah membantu mereka malam itu.
Lebih baik terus dan kembali ke hotel, katanya pada diri sendiri. Ia menyeberangi persimpangan besar dekat taman, di seberang patung Christopher Columbus. Dua blok lagi Hotel Preston menjulang di hadapannya. Ketika sampai di lantai atas kamarnya, ia tak mendapati ayahnya. Pasti ia sudah ke teater lagi. Ali turun dan duduk di salah satu kursi besar di lobi. Tapi orang di meja pendaftaran terus menatapnya seolah-olah dia tidak boleh duduk disitu. Mending pergi keluar dan duduk di tangga depan hotel, pikirnya. Saat itu ada seorang laki-laki duduk di tangga Hotel Preston tak jauh darinya.
“Hai, gadis kecil. Kenapa kamu duduk di luar? Kemana orangtuamu?”
“Aku sedang menunggu kakakku. Orang tuaku bekerja,” jawab Ali.
“Nah, mana kakakmu?” tanya pria itu.
“Dia sedang melihat-lihat trik sulap. Kami baru saja pindah dari California,” kata Ali polos.
“California ya?” sahutnya.
Mendekatklah sini. Namaku Paman Bill. Siapa namamu?” tanyanya.
“Ali,” jawabnya. Orang itu menyenangkan, pikir Ali. Dia mengajak ngobrol, jadi tidak kesepian deh. Ali berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
“Kamu mengingatkan pada keponakan kecilku.” kata Paman Bill.
“Dia cantik dan punya ekor kuda sepertimu,” Paman Bill menyentuh kepalanya dan menarik-narik ekor kudanya.
“Kau bawa buku apa? boleh kulihat? Hmmmmmmmm….. “Alice in Wonderland” Mari kita baca sebentar.”
Ide yang bagus, pikir Ali, karena dia suka membaca.
“Sini, duduklah di pangkuanku, akan kubacakan untukmu.” kata Paman Bill menepuk-nepuk celana lusuh di lutut kanannya. Orang itu sungguh bau tapi Ali malu untuk bangun karena terlanjur duduk di lututnya
Paman Bill mulai membaca. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Ali, memeluknya sedikit dan meletakkan tangannya di lututnya. Ali tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia benar-benar tidak tahu siapa “Paman Bill” Dia mulai risih.
“Hei, siapa kau? Mengapa menyentuh adikku?” teriak Reynolds dari bawah tangga hotel. Seketika, Paman Bill mendudukkan Ali dan bukunya lalu bergegas menuruni tangga dan menuju taman tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Siapa orang itu? tanya Reynolds pada Ali.
“Dia bilang namanya Paman Bill,” jawab Ali.
“Kedengarannya seperti nama palsu.” komentar Reynolds. “Tidakkah kau ingat kita tak boleh berbicara dengan orang asing?” lanjutnya.
“Apa kau juga tidak ingat Buddy System? balas Ali “Aku tak akan berbicara dengan dia, jika kamu….”
“Ah , lupakan saja Ali,” sela Reynolds karena tahu adiknya benar. “Ayo, kita ke kamar dan melihat dari jendela kemana orang tua itu pergi.”
Pada saat mereka sampai di lantai atas dan melihat keluar jendela dari kamar hotel, terlihat Paman Bill sudah berjalan ke taman menuju ke jalan rindang, tempat anak-anak bermain.  

Jumat, 22 November 2013

A Little Orange in the Big Apple (BAB 13)

13. Bapak dan Putra ke Gedung Pertunjukkan, Ibu dan Putri Pergi ke Taman
Sungguh sangat sulit untuk tidur pada kali pertama di Hotel Preston. Suara kipas angin di atas kepala yang berputar-putar membuat bising. Tapi tak membantu merasa lebih sejuk. Cahaya lampu pada papan hotel berdenyar di luar jendela. Suara klakson mobil dan taksi saling bersahutan, suara lift,  bahkan orang berbicara di luar bisa terdengar, kadang-kadang muncul dari koridor, juga dari jalan di bawah ketika jendela dibiarkan terbuka supaya ada udara masuk. Suara pintu sedang dibuka dan ditutup terdengar di sepanjang koridor. Terkadang George mengeluarkan suara gemeletuk dari mulutnya dan membolak-balik badannya.
Betapa menyenangkan menyadari ayahnya kini begitu dekat, pikir Ali. Meskipun ia agak berisik ketika tidur. Ali mencoba untuk tidur di antara semua suara yang terdengar. Dengan erat ia memeluk Smokey Bear dan merapat pada ibunya. Ayahnya dan Reynolds berada di tempat tidur lain. Tampaknya mereka mencoba tak mengacuhkan hal-hal yang mengganggu tidurnya walapun hawa di dalam ruangan begitu panas.
Saat mata Ali mulai terpejam dia berpikir betapa berbedanya keadaan di New York dibandingkan tidur di rumah Mrs Amity atau rumahnya di River Street. Disana yang terdengar hanya suara jangkrik di semak-semak halaman belakang .
Ali terbangun pagi hari karena suara klakson mobil.
“Waktunya bangun.” ucap ayahnya. Dia telah menyiapkan kopi untuknya dan Caroline juga sereal untuk semua.
“Aku akan mengajak Reynolds ke gedung pertunjukkan hari ini.” katanya kepada Caroline. “Kupikir itu akan jadi kesempatan baik bagiku untuk mengakrabkan diri. Ayah dan putranya di ‘Big Apple’Bagaimana menurutmu? tanya George pada Caroline .
“Tentu sayang. Ali dan aku dapat melihat toko-toko dan mungkin juga pergi ke taman sebentar.”
“Mari kita menyesuaikan jam tangan, Sayang.” kata George sambil menatap arlojinya. Sekarang jam 09:00. Kita berkumpul kembali di Preston selambat-lambatnya jam 14:00. Kau tahu aku sudah harus kembali ke gedung pertunjukkan jam 15:00.”
Caroline memeriksa arlojinya dan mengingat betapa tepat waktunya George akan segala sesuatu. Reynolds dan ayahnya berjalan tujuh blok menuruni Broadway kemudian berbelok ke 54th  Street.
“ Bukankah ini jalan menuju sekolah?” tanya Reynolds.
“Kamu cukup tajam, Nak. Memang benar, gedung pertunjukkan tempat ayah tampil sedikit ke bawah lagi  dari sekolahmu.” Mereka terus melangkah cepat menuruni jalan-jalan, bergegas melewati orang-orang yang berjalan lambat di trotoar dan menghindari kurir yang berlalu lalang serta orang-orang yang keluar masuk dari hotel, toko-toko dan gedung-gedung di sepanjang jalan.
“Terkesan?” tanya George pada anaknya.
“Bagaimana tak mengesankan? Ini keren!” pekik Reynolds yang jarang mengekspresikan   kegembiraan.
“Aku merindukan kalian, kau tahu. Kuharap kau suka disini.”
Ketika sampai ke di ujung jalan, Reynolds yang tadinya akan berhenti, melihat isyarat dari ayahnya yang terus berjalan cepat meskipun lampu merah.
“Hei Nak, kalau kamu berhenti, semua orang akan tahu Anda seorang wisatawan. Lihatlah lurus ke depan dan terus berjalan. Ikuti dan tetaplah dekat ayah.” kata George sambil meletakkan tangannya di bahu Reynolds. Reynolds menyukainya. Tidak perlu menunggu lampu hijau untuk bisa jalan terus.
Itu membuatnya merasa dewasa dan keren.
                “Keren.” kata Reynolds lagi saat ia mencapai jalan berikutnya dan terus melangkah di samping ayahnya ketika lampu merah.
“Ini dia, Teater Ziegfeld.” George bangga “Kita akan menuju pintu masuk panggung.”
George memperkenalkan anaknya ke beberapa orang di belakang panggung dan mengajaknya melihat-lihat.
“Ganteng juga anakmu George.” kata salah seorang penari.
“Apakah dia bisa menyanyi George? Mungkin dia bisa bergabung dengan kita.” ujar seorang wanita yang memakai kostum pertunjukan.
“Dia cantik Yah.” kata Reynolds tersenyum.
“Sebenarnya, aku tidak tahu apakah dia bisa bernyanyi.”  ujar ayahnya pada wanita yang berpakaian minim itu.
 “Apakah kamu bisa bernyayi Nak?”
“Aku belum pernah mencoba Yah, mungkin.” jawab Reynolds.
Reynolds berjalan menuju panggung dan membayangkan betapa indahnya disoraki oleh penonton. George berbicara singkat kepada salah satu manajer panggung tentang acara malam ini.
Tiba-tiba seorang wanita berambut merah yang mengenakan kostum indah muncul di belakang George dan meletakkan tangannya di atas mata George. “Siapa Sayang?”
Reynolds memandang ayahnya dimana ia sedang berdiri dan menatap wanita di depannya. Dia langsung tak suka. Dia memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Sayang’. Tentu itu sesuatu yang salah. George terbatuk dan berkata “Oh, hai nona. Aku ingin kau bertemu anakku.”
“Apakah ini Reynolds?” tanyanya.
Reynolds bertanya-tanya bagaimana wanita itu tahu namanya.
“Ya tentu. Anakku, baru saja datang kesini, aku ingin kau bertemu…..”
“Halo Sayang. Kau begitu tampan, sama seperti ayahmu.” desahnya, sambil memberikan Reynolds kecupan kilat di pipi. Reynolds benar-benar tidak suka wanita aneh ini.
“Halo.” sapa Reynolds datar. Dia bertanya-tanya kemungkinan bahwa semua orang disini saling memanggil dengan sebutan sayang.
“Yah, aku hanya ingin menunjukkan Reynolds dimana ayahnya bekerja dan mencari nafkah. Istriku Caroline sedang mengajak putri kami untuk melihat Central Park.
“Betapa manisnya.” kata wanita berambut merah. Ayah Reynolds tampak sedikit tidak nyaman dan mengatakan bahwa ia dan Reynolds akan pergi segera.
“Tapi Sayang, kalian sejoli tampan baru saja sampai sini. Kenapa pergi begitu cepat? Dia berkata dengan suara centil yang aneh.
“Hanya melihat-lihat panggung sebentar dan aku harus kembali ke hotel sebelum Ali dan ibunya pulang.”
Reynolds menyilang tangan dan tampak ingin pergi.
“Yah, senang bertemu denganmu Nak. Ayahmu selalu membicarakanmu sepanjang waktu. Bye-bye.” katanya sambil meninggalkan mereka yang berdiri di atas panggung.
“Siapa dia?” tanya Reynolds, menyeringai sedikit.
“Salah satu wanita dalam pertunjukan. Dia memiliki suara yang indah.” jawab George sambil melihat wanita berambut merah menghilang di belakang panggung.
“Seperti orang yang palsu menurutku.” kata Reynolds. “Siapa namanya?”
“Oh, namanya, ahh namanya….Marsha.” sahut George sedikit bimbang
Seperti bukan ayahnya kalau sampai lupa nama, pikir Reynolds.

Sementara itu, Ali dan ibunya telah meninggalkan Hotel Preston dan memasuki Central Park dekat monumen besar.
“Ini adalah ‘Maine Gate’ ke taman.” kata ibunya saat membaca buku panduan perjalanan yang diberikan George.
“Dikatakan dalam buku bahwa itu adalah tanda peringatan untuk Battleship Maine yang diledakkan pada tahun 1898 dan menyebabkan Amerika Serikat berperang dengan Spanyol (Spain)”
Ali bersorak ketika mendengar nama belakangnya.
“Spain? seperti kita.” Ia tersenyum. Mereka terus berjalan menyusuri jalan, melewati bangku-bangku taman yang sebagian tertutup daun. Ali mulai melepaskan tangan ibunya untuk melompat ke atas bangku kemudian turun dan melintasi daun-daun musim gugur yang bertebaran di mana-mana .
“Jangan jauh-jauh.” kata Caroline pada putrinya. Ali dan ibunya melihat orang-orang yang menarik perhatian. Ketika mereka berjalan di sepanjang jalan setapak, ada seorang pria tua sedang duduk memberi makan merpati sembari mengajak ngobrol.
“Dia berbicara dengan burung Bu.” bisik Ali.
“Dia mungkin kesepian, Ali, shhhhhh.” bisik ibunya. “Lihatlah orang-orang yang sedang berciuman di sana, dekat pohon itu, Ibu.” kata Ali yang tak pernah melihat orang di taman melakukan hal semacam itu.
“Sayang, ini adalah New York, mereka melakukan sesuatu yang berbeda di sini.” jelas Caroline. “Mari kita duduk sebentar, hingga ibu bisa merokok dan melihat buku panduan.” kata ibu Ali sambil duduk, membuka tasnya dan menyalakan sebatang rokok.
Aku mau ke atas batu itu ya Bu?” Ali mulai memanjat tonjolan besar batu dekat jalan dimana mereka berada.
“OK, asal ibu bisa melihatmu.”
Batu-batu itu mengingatkannya pada film koboi di televisi. Dia bergegas ke atas dan memandangi taman. Ia bisa melihat taman bermain dengan ayunan dari kejauhan. Dia kemudian perlahan-lahan mengitari sepanjang jalan sekitar untuk melihat gedung-gedung tinggi yang mengelilingi taman besar.
Ia tak bisa melihat tanda Hotel Preston berada.  Tapi ada tanda besar di atas gedung pada tepi taman yang tertulis “Essex Hotel”. Beberapa menit kemudian ia mendengar ibunya memanggil.
“Ali, mari kita pergi.” Ali bergegas menuruni bebatuan dan menyusul ibunya.
“Mari menuruti jalan ini. Kita akan sampai ke 5th Avenue dalam beberapa menit dan melihat-lihat pajangan.
Fifth Avenue adalah jalan yang sangat padat. Bus, taksi dan mobil, tapi yang terpenting dari semua itu adalah. Ada kuda di sana!
“Ibu, bisakah aku memberi makan kuda?” pinta Ali.
“Ibu kira, tidak Sayang. Dia makan makanan di karung yang tergantung di lehernya sekarang.
Lebih baik tidak mengganggunya. Mungkin lain kali.”
Ali terlihat kecewa, tapi mematuhi ibunya. Dia tidak terlalu berharap bisa menemukan kuda di
New York. Ini adalah kejutan yang menyenangkan. Mereka berjalan dan berjalan sepanjang 5thAvenue
dan melihat semua toko sepanjang jalan .
“Benar-benar menyenangkan ya kan Sayang?! Ini disebut window shopping. Kita bisa melihat segala sesuatu, tapi tak harus masuk dan membeli apa-apa.” jelas ibu Ali.
Apa asyiknya? pikir Ali. Melihat-lihat tetapi tidak membeli. Oh, memang tidak ada sesuatu pun yang menarik minatnya. Kebanyakan hanya pakaian perempuan dan perhiasan atau hal-hal yang disuka ibunya. Satu-satunya yang ia sukai sepnjang jalan 5th Avenue adalah kuda dengan kantong pakan dan toko mainan yang mereka lihat sebelumnya. Ibunya berjanji ketika memiliki waktu luang mereka bisa kembali untuk memberi makan kuda dan ke toko mainan.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di sebuah tempat yang menjual hamburger dan kentang goreng tepat di seberang Central Park. Di dalam menu ada hamburger yang memakai kacamata. Ali membaca menu dan menggumam ‘Prexy's’ Hamburger berpendidikan tinggi.”
“Sungguh lucu sebuah hamburger berpendidikan.” pikir Ali. Mereka memesan dua hamburger dengan kentang goreng dan segelas chocolate shake untuk berdua.
“Ya Tuhan! kita bakal terlambat.” Seru ibunya tiba-tiba. Ibunya terdengar seperti White Rabbit dalam buku favoritnya.
“Cepatlah Ali. Waktunya kembali ke hotel.” Ibunya meraih cek dari konter dan membayar kepada kasir wanita dekat pintu. Meskipun mereka bergegas secepat mungkin. Tapi saat sampai di hotel, George dan Reynolds sudah kembali. Terlihat ekspresi kaku di wajah George ketika mereka membuka pintu. Dia mengangkat lengan kirinya, menatap tajam arlojinya dan menggeleng kecewa.
“Jangan menatap seperti itu George.” kata Caroline yang kehabisan napas karena terburu-buru.              “Kita sepakat ada disini jam 02:00 Caroline. Kamu tahu aku harus kembali ke gedung pertunjukkan.” tukas George .
“Oke, oke aku minta maaf. Yah, aku terlalu terpesona melihat segala sesuatu disini.”
Caroline mencoba mengubah topik pembicaraan. “Aku tahu kau harus pergi, Sayang.” Ia beralih ke Reynolds apakah ia bersenang-senang di gedung pertunjukkan.
 “Ya. Ayah menunjukkanku banyak hal dan aku bertemu ‘Marsha, Sayang’” kata Reynolds menekankan kata ‘Sayang’
“Marsha Sayang? Caroline melihat George dan Reynolds bergantian. Tampak ekspresi  bingung di wajahnya.
“Dia hanya salah seorang gadis dalam pertunjukan. Sedikit berpengaruh, kau tahu semua orang
dipanggil sayang dalam urusan pertunjukkan.”
“Kapan kiranya kami bisa melihatmu manggung George? Aku akan senang jika bisa menontonmu.” kata Caroline.
“Sayang, itu bukan pertunjukkan untuk anak-anak. Kita harus mencari waktu kapan kamu bisa datang segera setelah mengatur jadwal dengan anak-anak. Aku harus pergi , Sayang.” Katanya menutup pintu dan bergegas menyusuri koridor.

A Little Orange in the Big Apple (BAB 12)

12. Pertama kali Melihat ‘Big Apple’

“Hai, Sayang. Kupikir kau tidak akan pernah sampai di sini.” gurau George kepada istrinya Caroline. Sementara ia membungkuk untuk memeluk Ali dan Reynolds.
“Senang bertemu kalian.” Seulas senyum tampak pada bibirnya.
“Jangan berharap banyak dengan tempat ini ya. Hotel Preston adalah tempat yang kotor (dump). Tapi semoga bisa baik-baik saja selama seminggu sampai Madame Fifi mengosongkan apartemennya di Osgood.”
“Dump itu apa yah?” tanya Ali yang berjalan menaiki tangga dengan menggandeng ibu dan ayahnya.
“Ya, tempat ini.” kata ayahnya sembari tertawa dan mengayunkan tubuh Ali.
“Jadi, Sayang.” kata George kepada istrinya Caroline “Inilah Broadway.” Dia memeluk pinggang Caroline dan telunjukknya menyapu ke arah jalan besar di depan mereka yang penuh puluhan mobil, taksi dan bus yang berseliweran.
“Ini bukan bagian yang mengesankan dengan semua gedung pertunjukkan, tapi inilah Broadway. Lihat di sana! itulah Columbus Circle.” George menunjuk ke patung di tengah jalan yang hanya berjarak beberapa beberapa blok. George membungkuk pada Ali dan berkata  “Apa yang kau pikirkan, Pumpkin.” Pumpkin adalah sebutan spesialnya untuk Ali. Ali hanya memberinya pelukan di pinggang dan tersenyum padanya. Caroline, George dan Ali mengawasi Reynolds yang sudah lari ke lobi hotel melihat-lihat majalah dan konter permen.
“Bu, bisakah aku mendapatkan satu dolar yang kumenangkan tadi?” tanyanya ketika keluarganya datang belakangnya .
“Whoa, cocok.” kata ayahnya “Mari kita istirahat dulu baru nanti lihat-lihat.”
Reynolds mengedikkan bahu. Dia senang melihat ayahnya, tetapi merasa sedikit canggung karena sudah begitu lama tak bersua. Ali masih kecil dan tak malu menggandeng tangannya. Tapi ia berusia 11 tahun, menggandeng tangan orangtua adalah hal yang tak ingin dilakukan lagi. Dia sudah tak sabar untuk keluar dan melihat sekeliling.
“Mari kita pergi ke kamar dan keluar jalan-jalan setelahnya. Tidak banyak yang bisa dilihat, tapi baiklah. Orang-orang di pertunjukkan banyak tinggal di sini untuk menghemat uang. Tempat itu dekat dengan Central Park dan tidak terlalu jauh dari gedung pertunjukkan.” jelas George. Ada lift dan tangga, karena mereka berada di lantai 5, maka mereka naik lift.
Setelah mereka sampai ke kamar, George mulai bercerita dengan semangat tentang kota New York.
“Aku suka tempat ini! Disini tersedia apa-apa yang dicari orang. Hal-hal menyenangkan untuk dilihat dan dilakukan. Bersenang-senanglah. Ini ada sekantong apel dan beberapa makanan ringan yang kubeli di toko kecil pojok sana jika kalian lapar. Aku punya peta yang menakjubkan di sini untukmu Caroline.
Akses untuk mengelilingi kota ini begitu mudah. Tinggal mempelajari jalanan yang bernomor kemudian mempelajari jalan besar yang melewatinya. Kau akan memahaminya segera.” George menyemangati.
Reynolds buru-buru duduk di kursi tua dekat jendela yang mengarah ke Central Park, hanya beberapa blok jauhnya. Ali duduk di samping ibunya pada salah satu tempat tidur di kamar. tidak empuk, batin Ali. Hanya memantul sedikit ketika didukukinya untuk melihat sekeliling kamar. Sebuah lemari, meja kecil, hot plate yang digunakan ayahnya untuk memanaskan makanan dan gorden berwarna ungu yang jelek.
Sungguh panas di dalam kamar, suara lalu lintas sepanjang jalan terdengar melalui jendela aroma kamar juga sangat berbeda dari rumah mereka yang di Valley.
“Sedikit apak di sini.” celetuk ibunya.
“Ya, sangat apak.” ayahnya sepakat, mengernyitkan hidung dan mendengus.
“Oke, anak-anak, sebelum kita tur singkat melihat-lihat sekitar. Ada beberapa tindakan waspada, yaitu selalu menerapkan Buddy System, walaupun hanya akan turun ke lobi atau ke kamar mandi menyusuri koridor. Ini memang bukan hotel terbesar di kota, tapi peraturan itu berlaku untuk beberapa minggu. Kau mendengar ayah Reynolds? tegas George pada anaknya. Reynolds yang sedang melihat keluar jendela kembali menatap ayahnya dan mengangguk “Ya ayah, Buddy System.” ulang Reynolds .
“Usahakan kita bersama-sama terus, tetapi jika terpisah, kau perlu mencari adikmu. Ingat! kau yang tertua dan dia baru 8 tahun. Apakah kamu mengerti? Ini sangat penting, Nak.”
“Aku mengerti Yah.” Tak bisakah kita pergi ke luar dan melihat –lihat?” desak Reynolds.
“Sabar Nak.”
“Ali apakah kau sudah paham apa Buddy System itu?” tanya George pada putrinya.
“Selalu bersama-sama.” kata Ali, menambahkan  “Dan tak pergi kemana pun sendirian.”
“Begitulah, Pumpkin.”
“Mari kita pergi ke atap dan melihat kota yang indah ini. Ini adalah tempat yang paling baik untuk menunjukkan dimana letak objek-objek oke?” Caroline tersenyum pada suaminya. Dia selalu memerinci. Sungguh menggembirakan mendengar suaranya dan melihatnya bersama anak-anak.
                “Mari ke atap bersama ayahmu.” ajak Caroline sambil meraih kantong apel dan memberikan pada anak-anak masing-masing satu buah.
“Kau tahu, beberapa orang di pertunjukkan menyebut kota ini ‘The Big Apple’
 Jika kamu bisa berhasil disini, maka itu akan menjadi titik kesuksesanmu.” kata George kepada Caroline.
“Sayang, bisa berada disini denganmu saja, aku sudah merasa berhasil.” kata Caroline sambil memeluk George lagi, sementara anak-anak berlari keluar pintu .
Dari atap Hotel Preston kau bisa melihat cukup jauh.
“Lihat Ali , di sana itu Columbus Circle.” tunjuk ayahnya.
“Wow, betapa  besarnya taman itu.” seru Reynolds takjub.
“Central Park, yang terbesar di Manhattan.” sahut George.
“Mereka memiliki gelanggang seluncur, tempat bermain bisbol, kebun binatang, korsel (komedi putar) panggung, sungguh menakjubkan untuk liburan keluarga.
“Ali, lihat disana ada sungai.” seru Reynolds pada adiknya menunjuk pada jalur keperakan di kejauhan, nyaris tak terlihat di antara bangunan-bangunan sekitar.
“Ya, kita memang dikelilingi air. Kalian berada di sebuah pulau, anak-anak.” kata ayah mereka
“Kita akan mengelilingi Staten Island menumpang ferry selama beberapa hari sehingga kalian dapat melihat pulau Manhattan.
 “Seperti Catalina.” cetus Reynolds cepat yang teringat perjalanan istimewanya beberapa tahun sebelumnya di California.
Ali dan Reynolds cepat-cept mengililingi atap yang berlapis kersik. Terlihat tulisan besar “Hotel Preston” bertengger di atap.
“Pada malam hari, disini sugguh menakjubkan.” George menyapukan telunjuk di depannya seolah-olah ia sedang berada di atas panggung.
“Lampu di setiap arah.  Kau akan menyukainya Caroline.” Istrinya tersenyum dan mendengarkan semua yang suaminya terangkan.
“Hati-hati anak-anak, jangan bersandar di tepi.” seru ibu mereka memperingatkan.
“Ada sebuah toko, dan lucunya namanya Drug Store (apotek) hanya beberapa blok dari sini dan semua keperluan sehari-hari hampir bisa didapatkan disana pasta gigi, buku tulis, rokok, obat sakit kepala, kaus kaki, permen dan semuanya. Di bawah hotel ada toko makanan kecil. Di sekitar sini tidak ada supermarket seperti di California.” lanjut George menerangkan.
“Yah, mari kita mulai melihat-lihat sekitar.” kata George menggandeng tangan Ali sementara  Reynolds telah menghilang di pintu tangga. Reynolds memang selalu terburu-buru.
George, Caroline dan anak-anak berjalan cepat dengan orang banyak. Caroline dan anak-anaknya membelalakkan mata setiap memandang. Persimpangan besar, mobil yang banyak dan ratusan orang berseliweran. Ali tidak pernah melihat begitu banyaknya orang .
“Mengapa semua orang berjalan begitu cepat, ayah? Kenapa juga ada begitu banyak orang di sini? tanya Ali.
“Semua orang terburu-buru. Untuk pergi bekerja, untuk pulang, untuk melihat pertunjukan untuk makan dan untuk hidup. Itulah New York. Ini adalah kota besar, banyak orang tinggal dan bekerja di sini.” katanya menanggapi.
“Lihat ke sana. Di samping Columbus Circle. Banyak bangunan tua diruntuhkan dan digantikan dengan bangunan baru. Kupikir akan jadi convention center.
Sebuah bus menjauh dari tepi jalan. Baunya busuk. Reynolds terus berjalan di depan, tapi Ali terus menggandeng tangan ayahnya.
“Jangan cepat-cepat Reynolds, tunggu kami disana.” Teriak ayahnya. Reynolds sedang menikmati irama laju segala sesuatu di sekitarnya. Kepalanya berputar akan keramaian kota.
Sepanjang jalan George menunjukkan Drug Store dimana kita bisa mendapatkan semuanya ( Ali ingat! terutama bagian tentang permen ) dan jalan yang  disebut 57th Street.
“OK, kita telah sampai di Broadway, melewati Columbus Circle dan Drug Store .
Sekarang kita akan turun 57th Street. Ini adalah jalan ke apartement kita nanti, ingin melihat?
“ Ya.” jawab mereka serempak. Ketika mereka berjalan kira-kira satu blok. George menunjuk ke  bangunan tinggi dan tua di pojok.
“Ini dia. Osgood Apartments,” kata George. Mereka semua berdiri dan melihat ke atas.
 “Kita akan berada di lantai 7 nanti.  Besok kita lihat lagi.
 Dan di sana adalah Carnegie Hall ada pertunjukkan musik yang indah dan konser tiap malam. Nah, anak-anak! Sekolah kalian hanya beberapa blok lagi dari sini.” papar George yang begitu jelas dan baik menjadi pemandu wisata bagi keluarganya. Dengan senang hati ia menunjukkan berbagai tempat di kota New York.
Meskipun sudah lelah dalam perjalanan yang begitu lama, tapi mereka tetap bersemangat dan memutuskan untuk melihat lebih banyak lagi.
“Oke, kita akan melihat P.S. 69 dan kemudian membeli sandwich besar  special besar atau New York cheesecake di toko delikates favoritku. Aku selalu pergi kesana setelah pertunjukkan di malam hari.”
Ali berpikir P.S. 69 adalah nama yang aneh untuk sekolah. Tak cocok untuk sebuah nama sekolah. Hanya ada dua huruf dan angka. Dan apa tadi, toko delikates? Suatu tempat yang menjual sandwich kesukaan ayah. Terdengar menarik sih, tapi dia tidak terlalu minat untuk makan kue yang terbuat dari keju. Ugh!
George memandang Caroline dan bertanya apakah ia ingin melihat-lihat lagi.
“Aku sudah menunggu begitu lama untuk hari ini. Yah, tentu saja.”
Ketika mereka tiba di 54th Street, mereka berbelok dan melangkah sebentar.
“Ini dia anak-anak P.S. 69 sekolah kalian yang baru.” ujar George.
“Benar-benar kuno yah.” kata Reynolds menatap bangunan kukuh, berwarna merah tua dan tampak jauh berbeda dari SD Hazeltine di Valley.
“Aku berani bertaruh tempat ini pasti berumur seratus tahun. Lebih tampak seperti penjara.” kata Reynolds menggelengkan kepalanya sambil berdiri dengan tangan di sakunya.
“Sepertinya begitu. Lihatlah di bagian atas bangunan. Ada tahun kapan dibangun. Yap, 1890. Tua sekali. tidak hanya seratus tahun. Aku sudah mendaftarkanmu dan Ali.  Kalian masuk mulai Senin depan. Semangat?”
“Iya ayah aku bersemangat, tapi kali ini aku benar-benar lapar. Bisakah kita pergi untuk makan sandwich.” pinta Ali yang perutnya sudah keroncongan.
“Tentu saja, Pumpkin.  Setumpuk tinggi sandwich New York, kami datang.”

A Little Orange in the Big Apple (BAB 11)

11. Kepak Sayap Ali dan Reynolds

Hari yang menakjubkan telah tiba. Terbang ke New York!  
Para kerabat melepas Caroline sekeluarga dengan saling berpelukan. Bahkan Nenek Agnes begitu baik memberi Ali dan Reynolds uang untuk jajan. Paman Dan mengangkat Ali dan berpura-pura menerbangkannya mengelilingi langit-langit di rumah yang kosong untuk terakhir kalinya, ia bergurau tentang bayi buaya yang harus dilihatnya ketika sampai New York nanti.
Nenek Nettie turut senang atas Caroline dan terus mengatakan bahwa George membutuhkan keluarga di dekatnya, menjaga agar kakinya tetap menapak tanah dan kepalanya tak melebihi batas awan. Ali tak mengerti apa maksudnya, tapi terdengar suatu kalimat yang baik. Paman Mack berpesan agar Ali mengingat bahwa ia selalu “San Fernando Ali” baginya.  Ali meyakinkannya, ia takkan lupa  itu.
Berada di dalam pesawat adalah hal yang paling mengesankan bagi Ali. Mereka jauh di atas awan, melihat keluar dari jendela kecil. Di bawah sana hanya terlihat tempelan warna coklat dan hijau. Dari atas kita tidak bisa melihat rumah-rumah atau apapun. Derum dan gemuruh baling-baling sangatlah menakjubkan. Wanita berjalan mondar-mandir di lorong memberi mereka makanan dan miniatur sayap maskapai untuk Ali dan Reynolds untuk dikenakan pada baju mereka, seperti yang ada pada jaketnya. Hati Ali berdebar karena  luapan kegembiraan, naik pesawat terbang, pergi ke tempat baru untuk tinggal dan berjumpa dengan ayahnya.
Terdiam di kursinya Ali sedang memikirkan ayahnya. Meskipun ia tidak setinggi Paman Dan, ayahnya termasuk jangkung. Ibunya selalu mengatakan bahwa ia begitu tampan dengan rambut yang hitam, senyum menawan dengan mata biru. Tampak seperti bintang film, begitu  ibunya bilang.  
Ali merasa ia tidak mirip ayah atau ibunya. Ia dan Reynolds berambut pirang, walau mereka bermata biru seperti ayahnya. Begitu banyak hal yang terpikirkan saat berada di dalam pesawat. Sesekali pria yang menerbangkan pesawat memberitahu para penumpang ketika mendekati tempat-tempat tertentu contohnya saat terbang di atas danau.
New York benar-benar jauh dari Valley. Ibunya dan Reynolds bermain kartu, sementara Ali membaca buku favoritnya, Alice in Wonderland. Ia selalu menyukai bagian pertama, dimana Alice terjatuh ke lubang kelinci dan memulai petualangannya dengan segala macam binatang aneh dan orang-orang di tempat ajaib.
Ketika mereka mendarat di bandara dan mengambil barang-barang. Sekeluarga naik mobil warna kuning (taksi) dan melaju jauh ke tempat baru mereka.
“Wow, lihat semua gedung-gedung tinggi itu.” seru Reynolds. Reynolds yang hampir tak pernah terkesan dengan apapun, kagum pada semua hal yang ia lihat dari taksi. Ibunya terus menunjuk pada objek yang berbeda-beda. Ali dan kakaknya terus memutar kepala dari sisi ke sisi untuk melihat semuanya.
Mereka memperhatikan  jalan-jalan sepanjang kota.
“Nah, anak-anak! Ini adalah Manhattan.” kata sopir taksi sambil menatap mereka bertiga yang duduk di belakang melalui kaca spion.
“Loh, kupikir pikir kita akan ke New York Bu,” cetus Ali.
“Manhattan merupakan bagian dari New York. Ini juga kota besar. Lihatlah di sini, di buku panduan perjalanan yang ayahmu kirimkan. Disini tertulis, kota New York terdiri dari 5 sektor atau kota kecil, Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx dan Staten Island.” Ali belum pernah mendengar tentang tempat-tempat itu. Satu-satunya yang terdengar familiar adalah “Queens” seperti ‘Queen Of Heart’ dalam buku Alice in Wonderland.
“Dimana ayah tinggal Bu?” tanya Ali.
 “Dia ada di sebuah hotel dimana kita akan bertemu sebentar lagi, Sayang. Yang pertama melihat tanda Hotel Preston dapat satu dolar.” kata ibu Ali.
“Kita akan tinggal disana untuk sementara waktu sampai apartemen siap dihuni pada bulan Oktober.” tambah Caroline. Ia terus melihat keluar jendela saat taxi melalui jalan-jalan ramai.
Caroline merasa seperti ibunya yang telah melakukan perjalanan ke Chicago ketika masih muda dan dibesarkan di Hollywood, tapi dirinya belum pernah melihat sebuah kota yang agaknya sebesar di New York.
Mereka semua berhimpitan di kursi belakang. Masing-masing membayangkan kehidupan seperti apa yang akan terjadi pada mereka.
“Aku sudah tak sabar melihat ayahmu.” kata Caroline.
“Aku ingin pergi ke Patung Liberty.” ujar Reynolds.
“Aku ingin melihat ayah juga.” kata Ali memegang erat lengan ibunya dengan Smokey berderak di antaranya.
“Aku melihatnya!” teriak Reynolds.” Hotel Preston berada di pojok sana. “Aku menang!” pekiknya penuh kemenangan. Ali tidak peduli. Kemudian dia berteriak  “Ayah di sana. Lihat ibu! Ayah melambai pada kita. George pun cepat berlari menuruni tangga hotel dan menyambut keluarganya.